Tampilkan postingan dengan label Interesting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interesting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Maret 2014

     


       Gunung Slamet adalah gunung tertinggi ke dua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru, merupakan gunung berapi yang masih aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Tinggi gunung ini adalah 3.428 meter dpl atau hanya memiliki selisih kurang lebih 200 meter saja dari Gunung Tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru.
                                             " Mitos Tentang Gunung Slamet "

     Gunung Slamet dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan spiritual Jawa, seperti Gunung Lawu. Banyak orang dari berbagai daerah datang ke Gunung Slamet untuk misi spiritual berdoa agar keinginan dan apa yang cita-citakan terkabul.

      Mereka yang ingin melaksanakan kegiatan spiritual diwajibkan membawa persyaratan kembang dan kemenyan, selain itu pendaki harus bersama juru kunci. Jika tidak membawa persyaratan, pendaki akan melihat kejadian aneh, tapi tidak berbahaya.

     Menurut informasi mereka yang datang ke Gunung Slamet bukan saja dari kalangan biasa. Ada pula kalangan pejabat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya Ani Yudhoyono pada 21 Februari 2013 juga mengunjungi wilayah Gunung Slamet.

     Konon, Gunung Slamet dihubungkan dengan penggantian presiden Indonesia. Presiden yang berkunjung ke daerah sekitar Gunung Slamet, tidak lama kekuasaannya berakhir. Sastoro, anggota DPR RI periode 1999-2004 yang berasal dari Tegal mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno sekitar 1964 datang mampir ke Waduk Cacaban (di utara Gunung Slamet). Tidak lama setelah itu terjadi kekacauan 1965 dan Soekarno tumbang. Serupa hal itu, yakni Gus Dur sehabis berkunjung ke pesantren temannya di Tegal tak lama kemudian lengser. Megawati tanggal 4 Juli 2004 meresmikan TPI di Tegal, setelah itu kalah pilpres. Spiritualis Ki Joko Bodo juga bercerita, tujuan spiritual dari kunjungan SBY ke Gunung Slamet, justru akan membawa malapetaka bagi SBY. Menurutnya Presiden Soeharto sesaat sebelum lengser juga melakukan kunjungan ke Gunung Slamet.

      Menurut cerita orang tua Gunung Slamet memang sedikit berbeda dengan gunung lain di tanah Jawa, gunung Slamet memang bukan gunung biasa didaki hanya untuk tujuan wisata atau rekrasi, hobi atau sekdear ingin menaklukannya. Pendakian ke puncak gunung Slamet biasanya ditujukan untuk tujuan khusus, misalnya karena ada alasan spiritual. Oleh karena itu para harus melengkapi syarat-syaratnya terlebih dahulu.

      Menurut cerita, "slamet" dalam bahasa Indonesia artinya "selamat". Setidaknya sejak jaman kakek moyang hingga sekarang Gunung Slamet jarang sekali bahkan tidak pernah "batuk-batuk" apalagi "muntah-muntah". Keberadaan gunung yang memberikan rasa aman dan tenang selama ini seakan memberikan "keselamatan" bagi masyarakat di sekitarnya.

      Meski hanya cerita mitos, namun akibat yang dibayangkan sungguh mengerikan. Mitos menceritakan apabila gunung Slamet meletus, maka letusannya diprediksi akan bisa membelah pulau jawa menjadi dua bagian. Entah itu karena timbulnya rekahan besar yang membentang dari utara ke selatan (dan air laut mengalir masuk hingga menyatu) atau karena masing-masing wilayah di barat dan timur bergeser saling menjauh.

      Letaknya yang hampir tepat ditengah-tengah antara batas pantai utara dan pantai selatan, serta dikelilingi setidaknya 5 wilayah kabupaten yang berbatasan langsung (Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, Purbalingga) dan 2 wilayah yang tidak langsung (Kab. Cilacap, Kota Tegal) dimana jika kita lihat di peta akan membentuk suatu garis lurus yang membelah pulau Jawa jika letusan besar itu benar-benar terjadi.

       Tentu kita masih mengingat atau tahu tentang sejarah meletusnya gunung Krakatau yang terletak di selat Sunda pada tanggal 26-27 Agustus 1883 silam. Para ahli memperkirakan, jauh sebelum ledakan tahun 1883, Gunung Krakatau Purba dengan ketinggian 2.000 meter dan diameter pantainya mencapai 11 km meletus tidak kalah hebat dengan letusan 1883. Bahkan letusan inilah yang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

      Pada letusan tahun 1883 Gunung Krakatau yang hanya memiliki ketinggian 813 meter itu meletus dahsyat. Letusan itu sangat dahsyat, hingga awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.


      Bahkan Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Kejadian itu terjadi karena disebabkan karena sebuah gunung yang hanya memiliki tinggi 813 meter saja. Tidak di bayangkan apa yang akan terjadi apapbila Gunung Slamet benar-benar meletus dengan letusan Dahsyat seperti yang terjadi pada Gunung Krakatau (Rakata) pada masa dulu.

      Tak terbayangkan akibatnya apabila memang akhirnya Gunung Slamet benar-benar meletus apalagi dengan letusan yang sangat besar, semua wilayah tersebut masuk dalam jangkuan semburan (minimal debu atau awan panas). Meski mitos ini tidak (belum) terbukti, namun bisa dipastikan Pulau Jawa akan lumpuh. Jalur Pantura akan tersendat, jalur selatan tak bisa digunakan dan jalur tengah akan lumpuh total. Sungguh mengerikan.


Benar atau tidak, hanya sang Maha Kuasa lah yang mengetahuinya..

Sumber : http://www.makintau.com

Minggu, 16 Maret 2014

           


          Al-Qur’an merupakan mu’jizat terbesar sepanjang masa. Salah satu keistimewaan al-Qur’an adalah memungkinkan penafsirannya yang terus berkembang dan selalu up to date. Salah satu contohnya adalah yang terdapat di dalam surat Ar-Ra’du (13) ayat 15.

         " Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) “Man” yang ada di langit dan di Bumi, baik dengan kemauan sendiri (taat), ataupun terpaksa, begitupula bayang-bayangnya (ikut sujud) di pagi dan petang hari. " (QS 13:15). 

Ayat tersebut menjelaskan adanya " Man " di langit dan Bumi. Lalu, apa yang di maksud dengan " Man " itu sendiri dan apa cirinya ???

         Di dalam tata bahasa al-Qur’an (arab) “Man” menunjukan makhluk yang diberi akal. Sedangkan makhluk berakal yang diciptakan Allah swt ada 4, yaitu: Malaikat, Iblis, Jin, dan Manusia. Oleh sebab itu makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhan, atau benda mati tidak bisa disebut “Man” tetapi disebut “Maa”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka “Man” bermakna “Siapa” dan “Maa” bermakna “Apa”.

 Ciri-ciri “Man” menurut surat Ar-Radu (13) ayat 15 adalah:
- Sujud dengan taat kepada Allah,
- Sujud dengan terpaksa kepada Allah, dan
- Memiliki bayang-bayang.

Jadi wujud seperti apa " Man " itu ?

         Jika melihat ciri-cirinya diatas maka tidak mungkin yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Malaikat, karena Malaikat selalu patuh kepada Allah, tidak pernah terpaksa, dan tidak memiliki bayang-bayang.  Juga tidak mungkin yang maksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Iblis, karena Iblis tidak pernah taat kepada Allah serta tidak memiliki bayang-bayang. Dan tidak mungkin pula yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Jin. Walaupun ada Jin yang taat dan terpaksa, tetapi Jin tidak memiliki bayang-bayang.Maka yang dimaksud dengan “Man” pada ayat tersebut adalah makhluk seperti manusia, yaitu mahkluk yang kadang kala taat, atau terpaksa serta memiliki bayang-bayang. Oleh sebab itu, ayat tersebut menjadi petunjuk adanya makhluk berakal seperti manusia di luar planet Bumi.

         Mungkin kehidupan di luar Bumi memang ada, walaupun masih belum kita temukan secara langsung. Jadi, benar atau tidak, hanya Tuhanlah yang tahu..